Friday, December 02, 2005

TENDER KATETER : TELER

Adalah alat, nama alat itu kateter jantung. Alat ini dimasukkan melalui pembuluh darah di paha lalu diberi zat yang tak tembus oleh sinar rontgen. Dari alat ini dapatlah dipantau dimana terjadinya penyempitan dan dimana terjadinya penyumbatan pembuluh darah jantung. Alat ini digunakan sebelum operasi jantung untuk memastikan bagi dokter. Oleh karena ada anak dari Bagan yang dulu pernah menjadi direktur RS Harapan Kita ingin mengembangkan operasi jantung ini di RS Arifin Ahmad, kita pun merasa berbahagia.

Mantan Kepala RS Harapan Kita yang anak Bagan Siapiapi menelpon Siti Fadilah agar dapat disumbangkan alat kateterisasi jantung ini untuk Pekanbaru, Padang dan Surabaya. Siti Fadilah pun mengucurkan duit ke tiga kota ini. Padang dan Surabaya membeli alat ini dengan merk General Electric karena alat ini dapat dihubungkan dengan pusat jantung lainnya sehingga membantu kateterisasi sebagai teknik kedokteran yang tinggi. Tapi di Samarinda dimana alat ini bermerk Siemen sekarang sudah menjadi besi tua.

Tapi berdasarkan pemenang tender, tiba-tiba saja Dinas Kesehatan akan membeli alat ini yang sudah menjadi besi tua di Kalimantan Timur, kan aneh ni. Saya sejak tahun 1967 sudah merancangkan kedokteran di Riau dan perkembangan RS yang begitu besar, merasa bangga sebagai orang Riau. Kenapa perkembangan yang demikian cantik harus dihancurkan oleh Dinas Kesehatan. Karena komisikah? Masya Allah...

Ada cerita tentang mafia bambu kuning alias mafia Cina? Sepuluh tahun yang lalu, saya bersama kepala Brimob RA ke Hongkong. Sudah saya jelaskan jangan macam-macam di Hongkong sebab kalau mafia Cina alias mafia bambu kuning ini beraksi, pupus kita dilantaknya. Betul saja, di Imperial Hotel dimana kamar saya berhadapan dengan RA, tiba-tiba saja kamar itu menjadi riuh rendah hanya soal sepele karena perempuan. Duit RA pun terkuras habis dan tak ada gunanya menghubungi security di Hongkong. Sebab kalau nyawa saja tertinggal, syukurlah sudah. RA yang kawin dengan famili saya mengira Hongkong ini sama dengan Pekanbaru,dia ditakuti orang, sampai ketemu bambu kuning dia ludas dan loyo.

Pokoknya mafia Cina alias mafia bambu kuning jauh lebih kejam dari mafia Cosa Nostra. Sebab perang antar mafia tidak merugikan orang lain, tembakan-tembakannya tepat walaupun dalam film “Untouchable” yang dimainkan oleh bintang Kevin Kostner dimana digambarkan walikota Chicago membawa sesumpit duit untuk menyogok Kevin Kostner, tapi sang polisi dilemparkan keluar oleh Kevin Kostner, polisi yang tak tersentuh oleh duit.

Sekalipun semua polisi yang dia rekrut untuk menangkap Al Capone mati tertembak, namun Kevin Kostner tetap teguh untuk menangkap Al Capone (bukan menembaknya dooh). Teman-temannya dari kepolisian habis mati, tinggalah Kevin Kostner tetap tak beranjak untuk menangkap Al Capone. Yang lebih ironis lagi, putra Kevin Kostner harus dipindahkan dari rumah ke rumah, karena terancam oleh serangan Al Capone. Karena kesalahan Al Capone tidak dapat dibuktikan maka polisi berusaha untuk mengamankan auditor Al Capone, auditor ini pun tertembak.

Untung masih ada auditor yang lain yang dapat membuktikan penggelapan pajak Al Capone. Celakanya, sang hakim dan juri yang mengadili Al Capone sudah menerima duit sogok, maka Kevin Kostner menemui hakim dan mengatakan kepada hakim bahwa nama hakim sudah ada dalam daftar yang menerima sogok dari Al Capone dan akan diamankan. Terpaksa hakim mengganti juri dan Al Capone pun dihukum 11 tahun bukan oleh karena kejahatannya tetapi karena tidak membayar pajak kepada negara. Alhamdulillah Al Capone mati pada usia 46 tahun karena sipilis sementara Al Capone Indonesia yang membunuh hakim agung dibebaskan dari Nusakambangan, inilah bentuk hukum Indonesia.

Apa hubungan cerita mafia bambu kuning ini dengan Diskes? Suatu kali saya melihat tender di diknas. Ketika itu yang menjadi kepala diknas adalah Tengku Dahril. Masya Allah, ini namanya bukan tender tetapi pembantaian. Saya tahu betul apapun muaranya pasti ke Eric juga yang dulu aktif dalam Media Riau dan kini punya Metro Riau.

Ketika sang Kapolda mendapat ampu alias dukungan dari orang-orang Melayu yang kerjanya memang pandai mengangkat telor agar meminta sang Kapolda jangan pindah. Saya tahu betul banyak hal yang separo hati dikerjakan Kapolda yang sekarang, kalau Kapolda yang dulu yang namanya Dedi Komaruddin dan mungkin ada hubungan dengan Dedi Handoko berani menyumbang PTIK 1,5 milyar, tentu duitnya berpuluh kali dari sumbangan ini. Alhamdulillah saya melihat namanya termasuk dalam daftar nama polisi yang duitnya di atas 10 milyar. Tinggal menggoyang Komisi III supaya Dedi Komaruddin di interpelasi dari mana duit sebanyak ini datangnya dan yang lebih penting lagi, Dedi Handoko tak tersentuh oleh hukum.

Ketika saya berbual-bual kosong dengan Komjen Makbul Selasa yang lalu karena pak Kapolri yang saya kenal baik masih memimpin rapat teroris dan waktu saya yang terbatas, saya mengatakan tinggal selangkah lagi Kapolda untuk menuju ke Eric sehingga terbongkarlah kasus mafia bambu kuning ini. Sekali waktu Eric mengundang saya untuk meluncurkan Metro Riau, saya tak bersedia datang karena rangkaian-rangkaian mafia ini saya tahu betul, puncak sakit hati saya, ketika tiga tubuh bayi terpanggang di Rumah Sakit saya, saya tak dapat menahan tangis bagaimana bayi-bayi ini mati hanya karena kontrak dinas pendidikan yang tidak dimenangkan oleh mafia bambu kuning. Pak Kapolda sebagusnya belajar dari orang yang sudah lama tinggal di Riau ini, sebab sudah tahu asam garamnya Riau, apalagi saya ini kan profesor.

Sampailah kepada keadaan yang paling tidak manusiawi. Ketika saya bekerja di bagian jantung Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya ketemu di Pekanbaru dengan adik saya Dr. Aulia Sani. Saya pun bicara, kalau mau besar jangan di Pekanbaru tapi di Jakarta. Lalu saya bawa adik saya ini ke dokter Sukaman yang menjadi atasan saya ketika itu. Dengan senang hati Dr. Sukaman menerima Aulia dan ternyata orang Bagan yang satu ini memang luar biasa mengembangkan RS Harapan kita sampai menjadi RS yang terbaik di Asia Pasifik. Menjelang masa-masa pensiunnya, saya berbicara “Jangan ke atas saja menengok, tengok jugalah kampung halaman.” Maka dr Aulia bermaksud mengembangkan unit operasi jantung di Rumah Sakit Arifin Ahmad.

“Ngah, saya sudah telepon Mentri Kesehatan supaya memberi dana pada Rumah Sakit di Pekanbaru, Padang dan Surabaya 45 milyar, entah bagaimana cerita, kontrak ini tiba-tiba saja jatuh ke Eric. Karena diramai-ramaikan oleh wartawan, maka diadakanlah tender ulang, ya jatuhnya ke preman juga, sekalipun diadakan tender ulang. Aneh, uang ini uang APBN benasrnya 45 milyar, digunakan untuk katerisasi jantung dimana terjadi penyumbatan. Hampir seluruh dunia memakai buatan General Electric karena dapat dihubungkan dengan satelit sehingga terjadi tele konsultan. Saya cek di Surabaya dan Padang, semuanya memakai General Electric. Kenapa sih alat di sini memakai Siemens? Bukannya saya ini dokter bodoh. Sekelompok mahasiswa datang ke tempat saya, “Ngah kita demo saja ke kantor Gubernur”. Sebab ini maksud baik dr. Aulia meminta duit pada Mentri Kesehatan Siti Fadhilah Supari yang dulu menjadi staf peneliti Aulia di RS Harapan Kita. Kalau ini dana APBN, harusnya Dinas Kesehatan malaksanakan bagus-baguslah.

Tapi ketika KPK menanyakan kepada saya heboh -ribut tentang alat Katerisasi ini, saya menjelaskan semua alat katerisasi di Harapan Kita buatan General Electric karena dapat digunakan sebagai alat tele konsul (konsultasi jarak jauh). Saya menjelaskan pula kepada KPK, beberapa alat ini yang dibeli oleh Gubernur Kalimantan Timur, sekarang menjadi besi tua di RS Samarinda. Ini laknatullah, sudahlah dapat sedekah dari APBN, dipaksa oleh kepala dinas kesehatan membeli Siemens. Saya menjumpai dr. Aulia hari Selasa yang lalu. Kalau Siemen kita tak pernah pakai lagi di sini. “Jangan Siemen ngah, harganya murah dan jadi besi tua.”

Ketika sekelompok mahasiswa ingin berdemo di kantor Gubernur, saya mengatakan tunggu dulu KPK bertindak menangkap orang-orang yang terlibat membeli kateter Siemens ini. Kalau sampai alat Siemens ini dibeli juga, saya akan memimpin demo ke kantor Gubernur, sekalipun habis 17 milyar merenovasi. Sebab aspirasi Riau bukan hanya 17 milyar ini. Kalau ini APBD, saya sudah tahu triknya, bagaimana mantan anggota DPRD LE bertamu sampai jam 4 subuh ke petinggi Riau ini membicarakan bagi duit. Saya kira saya sepandai Mosadlah yang jauh lebih cerdik dari KGB dan CIA dan ini pun hanya menunggu bom meletus sebab mata KPK sudah ke Riau. Tinggal data-data yang setumpuk yang saya kumpulkan.

Dulu pun saya mencoba memberikan nasehat dengan tulisan saya di Riau Pos “Heli pak Gubri”, kalau jadi heli itu dibeli pak Gubri, alamat jadi pak hitam sebagai rekanan gubernur Puteh yang tak ada lagi duit dan meminjam duit dari bank dan dikodak oleh semua surat kabar. Sekali ini target saya khusus kepada Dinas Kesehatan agar cepat dicekal oleh KPK sebab ini menyangkut orang banyak. Kalau Kapolda tak mau bertindak, ya Kapolri, kalau Kajati tak mau bertindak, ya Kejagung, kalau tak ada juga ya mahasiswalah berdemo ria. Tunggu kena cekau, jangan lagi dibeli alat Siemen ini, “kena cekau”. Saya pun sudah muntah menengoknya. Janganlah Riau ini jadi mainan, kalau tak sanggup mundur, masih banyak orang lain yang jujur. Ini tiap hari pidato, tiap hari pula berjanji, tiap hari mengingkari, tiap hari dapat amanah. Maka jawabannya hanya satu, munafiqun, laknatulaaaah... Belilah kateter Siemens, mana antara kita yang kuat?

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More