Saturday, December 03, 2005

Riau Kaya, Tapi........

Setiap melewati Jalan Sudirman, mata saya selalu memperhatikan Kantor Gubernur Riau. Misalnya sewaktu rehab Kantor Gubri yang beberapa kali molor penyelesaiannya. Sekarang bongkar pasang baru pagar dan pembangunan pagar kantor Gubri. Dalam hati saya berkata, "Bukankah Gubri mencanangkan Program K2I? Lalu kenapa kantornya yang dipercantik. Apa hubungannya kantor yang megah dengan pemberantasan kebodohan dan kemiskinan. Saya pun berkata lagi, "Ah Gubri hanya gagah-gagahan. Gubri hanya pandai mempercantik diri sendiri (kantornya, red), biar enak dipandang. Gubri pesolek, biar enak dipandang mata."

Itu adalah hal nyata yang tampak dengan mata kasat. Namun kenyataannya Riau merupakan daerah yang tercatat angka kemiskinannya termasuk tinggi, namun juga tercatat sebagai daerah yang terkorup. Kenyataan ini sangat meyedihkan sekali, jika dibandingkan dengan hasil kekayaan alam Riau yang melimpah. Riau adalah daerah kaya. Katanya. Semua pun bilang begitu.

Proyek rehab Kantor Gubri yang menelan uang rakyat (APBD) belasan miliar rupiah, proyek bongkar pasang pagar baru dan kolam Kantor Gubri yang juga menelan dana sekitar Rp4 M, rehab Gedung Daerah yang juga menelan dana miliran dan proyek lainnya, menimbulkan decak 'kagum' dan tanya di benak saya dan mungkin juga bagi yang lainnya. "Apakah pembangunan itu ada azas manfaatnya?".

Dari mata orang awam saja bisa menjawab. "Semua itu tidak ada manfaatnya, kecuali hanya untuk gagah-gagahan. Karena bangunan yang sebelumnya masih kuat atau pagar yang sebelumnya masih kokoh, pastilah masih bisa dipakai. Nyatanya kantor lainnya masih memakai pagar yang sama."

Pengemis, masyarakat miskin pun mungkin dalam hati mereka berkata," Andai duit untuk merehab tersebut, dibangun rumah sederhana yang layak huni (RSH) untuk kami yang papa ini dan diberi kepada kami gratis, atau setidak dengan harga murah, alangkah murah hatinya Gubri. Alangkah bermanfaatnya bagi kami."

Anak-anak asongan, penyemir sepatu atau anak-anak putus sekolah pun berkata, "Andai duit yang 'berember-ember' itu digunakan untuk merehab kantor dan pagar tersebut diberikan pada kami berupa beasiswa, alangkah suka hati kami, karena bisa bersekolah lagi menggapai cita-cita, yang bukan hanya sekadar cita-cita. Tapi bisa menjadi nyata, karena kemurahan hati Pak Gubri. Pak Gubri adalah pahlawan kami."

"Atau kalau tidak untuk sekolah gratis, berobat gratis. Membangun jalan-jalan kota yang sebagian besar masih jelek mutunya, bahkan masih banyak yang masih jalan tanah," gumamnya keterusan (yang gratis-gratis kan enak, dan tidak ada yang menolak, walaupun yang kaya sekalipun).

Bayangan hasilnya kalau dana tersebut digunakan untuk untuk hal-hal yang bermanfaat di atas. Masayarakat bukan hanya berterima kasih dan terbantu, tapi semua itu akan menjadi aset masa depan bagi Riau. Karena siapa tahu dari sekian anak yang diberi beasiswa bisa mengharumkan nama Riau atau setidak akan memberi balas jasa terhadap apa yang telah diterimanya. Dan mereka akan mensumbangsihkan ilmunya untuk kemajuan Riau di masa datang.

Setidaknya Riau punya putra-putri yang berkualitas dan tahu membalas budi.Kalau sudah punya aset orang-orang yang berkualitas (tak lupa harus berakhlak dan bermoral). Riau jauh dari yang namanya orang-orang korup. Kemiskinan dan kebodohan sudah sangat minim angkanya. Bolehlah Riau berbangga diri. Barulah bisa dinamakan Riau kaya. Riau bukan hanya kaya dengan kekayaan alam, tapi juga kaya dengan orang-orangnya yang berkualitas dan bermoral, namun miskin dari segala kebrobrokan (kemiskinan, kebodohan, pengangguran, prostitusi, kriminalitas). Uh... andai saja bisa (mudah-mudah mimpi ini bisa jadi nyata. Amin!).

1 komentar:

Riau Kaya, Tapi itulah realita sekarang yang kaya makin kaya dan yang miskin makin banyak. Memang setiap pemimpin kita selalu membuat janji2 yang tidak pernah masuk di dalam kenyataannya. disisi lain ingin berantas kemiskinan dan kebodohan.Mungkin saya pikir berantas K2 tadi hanya untuk para pekerja yang membangun or merehab kantor gubri. Buruh itu butuh kerja ( berantas kemiskinan ), buruh dapat gaji ( gajinya untuk nyekolahkan anaknya or berantas kebodohan )

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More