Tuesday, December 06, 2005

Malin(g) Ku(u)ndang

Entah sumpah serapah yang keberapa lagi terlontar dari pedih hati masyarakat yang selalu tergores oleh ucap, tingkah, tindak yang tidak amanah, dari orang-orang yang diberi kuasa (legislatif) menjalankan amanah rakyat, untuk mewujudkan kehidupannya yang lebih baik. Dr (HC) Tenas Effendi menyentil mereka dengan bait pantun : “Ada Melayu mewakili rakyat/ bercakap pandai, berpidato pun hebat/ sayangnya kurang memperhatikan umat/ amanah sumpah banyak tak diingat”. Koreksi yang begitu menyentuh pun senyap atas semilir ambisi dalam bingkai kuasa yang dikompetensikan.

Sakit negeri ini memang kelewat parah. Kritisi masyarakat terhadap prilaku, peran dan fungsi legislatif, tidak lagi dianggap suatu responsibility amanah kepada rakyat (pemberi kuasa), malahan dianggap sebagai suatu tantangan dari digdjaya yang dimiliki oleh “Pendekar mabuk” di legislatif. Polemik ‘maling mengaku rampok’ berteriak-teriak mencari pembenaran dan mencari kambing- kambing yang harus diwarnai menjadi hitam yang sangat vulgar, sehingga tidak ada lagi ruang untuk saling wa tau syaubilhaqi (nasehat-menasehati dalam kebenaran). Yang ada celoteh ‘dungu’ keluar dari hati yang digelayuti amarah untuk menutupi lubang-lubang ‘kebusukan’ yang ter-struktur. Entah pencerdasan apa yang sedang dipertunjukan kepada rakyat, kita tak tahu.

Jabatan dan posisi bagi sebagian orang merupakan ‘rezeki’ yang sangat bernilai ekonomis dan sosial. Dengan safari dan mobil dinas seseorang merasakan, mempunyai kekuatan gaib yang mendorong kepercayaan dirinya (superiority) melebihi orang lain. Membusungkan dada, mendongak ke langit tanpa merasa berdosa sambil meludahi keringat pedagang, petani, supir, nelayan, guru, yang penghasilannya selalu dipungut untuk distribusi, atas nama PAD yang merupakan bahagian dari sumber APBD. Sebagian dari dana rakyat jelata itu, dipakai membeli baju safari dan mobil dinas yang mereka pakai.

Rakyat jelata berharap, tetesan keringatnya dipergunakan untuk chasanul khatimah (contoh yang baik) atas suatu prilaku politik yang mempunyai budaya malu, sehingga baju atau mobil dinas tidak dipakai untuk pergi ke salon, ke pasar, mengantar anak sekolah, atau duduk dan kongkow-kongkow di hotel berbintang, yang sama sekali tidak mempunyai korelasi dengan kedinasan. Andai saja Umar bin Aziz menjadi khalifah (pemimpin) di negeri ini, mungkin mereka sudah direjam. Umar bin Azis matikan suluh (lampu) Negara, untuk bicara dengan anaknya tentang urusan pribadi, sehingga cahaya lampu dinaspun tidak berhak mereka nikmati. Kita baru punya pemimpin yang pandai mengaji tapi belum teruji.

Ada juga pemimpin kita seperti yang dilukiskan Tenas Effendi dalam pantunnya : “Sebenarnya banyak melayu terkenal/ gelar berderet ilmupun handal/ tapi karena takut dicekal (di recall)/ dirinya selamat rakyat terjungkal” .

Maka tidaklah asing bagi rakyat jika sang ketua dari perkumpulan “pendekar mabuk” itu, selalu mencari pembenaran/justifikasi, atas sikap tindak dan prilaku anggotanya. Walaupun dia sendiri tidak berbuat seperti apa yang dilakukan anggotanya, tetapi pembelaan yang dilakukannya mengaburkan sikap yang mungkin selama ini putih menjadi abu-abu. Malahan kita khawatir lambat laun sikap itu menjadi hitam, karena gosong oleh sengatan dan desakan keinginan untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai ketua. Peringatan Tenas Effendi orangtua negeri, tak lagi terbaca : “Ada Melayu hidup berjaya/ karena mau bermuka dua/ kemari memuji kesana memuja/ kaumnya melarat ia tak kena”.

Akhirnya apa yang dilakukan anggotanya diluar yuridiksi legislatif, ikut mempromosikan potensi Riau bersama BPI, dicarikan alasan pembenaran dari study banding menjadi marketing banding. Oleh UU, kegiatan itu mutlak menjadi tanggung jawab politik dan hukum eksekutif, sementara tugas legislatif justru mengawasinya bukan pula ikut menjadi staff pemasaran (promosi) BPI. Kayaknya sang ketua perlu berkaca kembali kepada UU tentang peran dan fungsi, hak dan kewajiban legislatif, yang diatur dalam undang-undang No 22 tahun 2003, tentang susunan kedudukan anggota DPR, DPRD Tk I, DPRD Tk II, agar prilaku anggota legislatif mempunyai kepastian peran dan fungsi, yang melahirkan kemajuan akal budi. Tidak dalam kebimbangan panjang yang tak menentu, seperti syair nasib melayu karangan Tenas Effendi : “Nasib melayu tak menentu/ terombang-ambing sepanjang waktu/ dikatakan mundur nampaknya maju/ pusaka punah satu persatu”.

Negeri yang ber-adat-kan Islam ini tentunya harus menjadi negeri Rahmatan lil Alamin. Dengan konsisten (istiqomah) melaksanakan dogma-dogma keagamaan seperti apa yang dinyatakan Muhammad SAW tuntutlah ilmu ke negeri Cina. Artinya, Muhammad SAW tentunya tidak menyuruh orang di negeri ini mengadopsi situasi yang penuh intrik, suap, penggelapan, penggelembungan dan pengelabuan, dengan cara menekan, memeras dan memangsa sesama seolah menjadi kebutuhan, sehingga dimensi hidup dilumuri dengan penipuan dan membuat Sun Tzu membenarkan cara mereka dengan memberikan jurus baru, “Gunakan mata-mata dan lakukan pengelabuan dalam setiap usaha” agar orang-orang yang consent mengatasi kekusutan ini dapat dimarjinalkan.

Tentu yang perlu kita tiru adalah komitmen yang kuat untuk membersihkan negeri ini. Seperti yang disarankan Wu Tzu Hsu kepada rajanya Fuy- ch’ai, beberapa abad yang lalu, orang yang bandel dan kurang ajar yang melakukan pembodohan dan pemiskinan masyarakat secara sistematika dan ter-struktur memanfaatkan kekuasaan, jabatan dan fasilitas negara ‘harus dibabat’, agar tak lagi benih-benihnya ditanah. Hal serupa juga terjadi di Eropa. Di Inggris pada abad 19, juga diterapkan hukum keras bagi penyalahgunaan fasilitas dinas. Seseorang bisa dihukum mati hanya karena membawa pulang satu rim kertas seharga lima schilling.

Pada tahun 213 SM, perdana Menteri Cina Li Siu mengambil dan mengencingi topi para “cendikiawan” (pejabat) yang pandai, berpidato pun hebat tetapi melanggar sumpah dan amanah. Li Siu melakukan therapy dengan memecahkan telur pakai godam. Pengetahuan inilah yang disarankan oleh Muhammad SAW untuk dipelajari, agar kejayaan masa lalu negeri ini tak layu, seperti dikhawatirkan Tenas Effendi : “ Segitulah nasib orang Melayu/ bagaikan pohon semakin layu/ jayanya tinggal di masa lalu/ masa hadapan belum tahu” . Nauzubilla Minzalik Summa Nauzubillah

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More