Thursday, December 08, 2005

Hari Anti Korupsi Memperingati Apa?

Tanggal 9 Desember ditetapkan sebagai Hari Anti Korupsi. Tidak ditahui siapa pemrakarsa penetapan tangal 9 Desember sebagai Hari Anti Korupsi, tidak jelas pula mengapa tanggal 9 Desember itu dipilih menjadi Hari Anti Korupsi, namun yang lebih tidak jelas lagi adalah apa yang sebenarnya diperingati pada Hari Anti Korupsi tersebut?

Kalau untuk mengingatkan warga negara Indonesia bahwa korupsi itu perlu diwaspadai, rasanya tak perlu, karena sudah hampir tiap hari mereka disuguhi teater korupsi,bahkan banyak yang ikut-ikutan melakukan korupsi, misalnya korupsi waktu atau korupsi janji. PNS misalnya, banyak yang lebih suka di warung kopi daripada di kantor. Sudahlah suka datang terlambat dan pulang lebih cepat, mereka juga tak sepenuhnya berada di kantor dan bekerja menjalankan roda administrasi negara.

Lantas untuk apa Hari Anti Korupsi? Apakah bisa hari itu dijadikan sebagai tonggak pengingat agar orang tak menyerah melawan aksi korupsi? Bagaimana hal itu bisa dilakukan, dan efektif, kalau realita yang berkembang justru seperti berpihak kepada para pelaku korupsi, karena banyak yang mendapat keuntungan atau bagian dari perilaku korupsi tersebut. Orang yang dituduh korupsi, polisi yang memeriksa mereka, jaksa yang menuntut mereka, hakim yang menyidangkan mereka, para pengacara yang membela mereka, para dokter yang siap sedia dengan surat keterangan sakit dan diagnosa kesehatannya, wartawan yang memberitakan, preman yang dibayar untuk mengamankan, para simpatisan yang suka datang sesekali dan dibantu sekolah anaknya, pengurus rumah ibadah yang dibantu membangun rumah ibadah, yayasan sosal yang menganggapnya dermawan karena suka membantu tanpa peduli dari mana asal uang bantuan tersebut, para sipir di penjara yang dengan senang hati jadi pelayannya karena kemurahan hatinya, dan seterusnya. Semua pasang badan melindungi dan menegakkan citra terhormat sang koruptor.

Dengan realitas yang sedemikian telanjang bagaimana mungkin perilaku korupsi bisa diberantas di negeri ini? Bagaimana mungkin memberantas suatu fenomena kontroversial yang justru telah dijadikan sumber penghasilan, bahkan sandaran hidup, bagi sebagian orang, karena beratnya beban hidup itu sendiri?

Atau mungkin Hari Anti Korupsi tersebut sengaja diciptakan untuk menyenang-nyenangkan hati saja? Bahwa meski tidak berdaya memberantas korupsi, karena suka korupsi juga, paling tidak kita punya momen yang menunjukkan bahwa kita sebenarnya juga tidak suka korupsi, tapi terpaksa menyukainya karena desakan kebutuhan dan keinginan hidup, dan hal itu diperlihatkan dengan menciptakan sebuah hari yang khusus untuk bersikap anti korupsi. Lalu hari itu kita kumandangkan ke mana-mana agar dunia tahu bahwa kita juga menolak perilaku korupsi. Selanjutnya, pada 364 hari lainnya, sesudah dan sebelum tanggal 9 Desember, kita korupsi lagi sambil menghibur diri bahwa paling tidak kita punya sebuah hari yang khusus untuk bersikap anti korupsi, tapi tetap saja melakukan korupsi, karena sikap dan aksi adalah dua hal yang berbeda, alias bukan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Lagipula, satu hari itu cukup berarti, karena bermakna 24 jam, atau 1.440 menit, atau 86.400 detik. Cukup lama kan?
Meski demikian, sebagai sebuah kreativitas, kita patut mengacungkan jempol pada pemrakarsa Hari Anti Korupsi, karena paling tidak dia terus menyalakan harapan bahwa perilaku korupsi bisa dilawan da sikap anti korupsi bisa ditumbuhkan. Namun, acungan jempol ini tentu hanya pantas diterimanya kalau kreasinya itu benar-benar didasarkan pada niat dan tekad yang jujur untuk memberantas perilaku korupsi dan bukan menciptakan peluang korupsi baru untuk dirinya sendiri, karena sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang atau lembaga yang tadinya sangat menggebu-gebu menentang perilaku jahat, malah terpuruk dalam kejahatan itu sendiri setelah dia merasakan nikmatnya berenang dalam aksi kejahatan tersebut. Seperti LSM anti korupsi yang justru menjadi korup setelah merasakan nikmatnya bantuan para donator dan model-model pendekatan finansial dari orang-orang atau lembaga korup yang mereka kritisi, sebab seperti kata orang bijak, setiap orang ada harganya. Selamat Hari Anti Korupsi.

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More