Thursday, December 08, 2005

Habis Hujan Datanglah Banjir

BAGI Provinsi Riau hanya ada dua fenomena musim yang tak pernah bisa tertangani selama ini. Ketika musim panas atau kemarau datang, serangan kabut asap tak bisa teratasi akibat hutan dan lahan tidur membara karena terbakar. Sebaliknya, ketika musim hujan datang, banjirpun tak bisa terelakkan. Jangankan berjam-jam, apalagi berhari-hari, satu jam saja hujan turun, semua sudah tergenang di mana-mana.

Seperti yang terjadi dua hari silam (Riau Mandiri, 8/12), sebagai ibukota dan pusat pemerintah Provinsi, kondisi kota Pekanbaru sungguh menyedihkan setelah diguyur hujan lebat sekitar dua jam. Seluruh jalan-jalan protokol, seluruh kawasan yang menjadi kebanggaan Riau, tergenang air alias kebanjiran.

Sebutlah sajalah, mulai dari Jalan Sudirman, Jalan Tuanku Tambusai, Jl KH Ahmad Dahlan dan Jalan Riau, seluruhnya 'berkuah air'. Bahkan, di depan kantor Walikota pun tak luput dari banjir. Akibatnya tidak ada lagi kawasan di pusat kota yang aman untuk dilewati ketika musim hujan datang, karena banjir mengepung di mana-mana.

Kepada koran ini banyak warga masyarakat yang sangat prihatin dengan permasalahan banjir yang sepertinya tidak mendapat perhatian dari pemerintah, apakah Pemko Pekanbaru ataupun Pemprov Riau. Dulu, kata sejumlah warga, kondisi Pekanbaru di saat musim hujan tidak separah ini. Semestinya dengan pembangunan yang semakin pesat, tentu akan diiringi dengan penataan kota yang semakin baik pula, termasuk masalah drainase jalan.

Menurut hasil survei Kimpraswil Kota, diperkirakan terdapat 60 titik banjir pada tahun 2005 ini di Pekanbaru. Dan jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah seiring semakin banyaknya kawasan-kawasan baru yang dibuka sebagai pemukiman masyarakat. Selain titik banjir yang terus bertambah, drainase yang ada saat ini juga sudah tak memungkinkan lagi, baik panjang maupun ukuran kedalamnya.

Menurut pemikiran kita, penanganan banjir ini semestinya tak boleh berhenti dan harus tetap menjadi skala prioritas bagi Pemko Pekanbaru maupun Pemprov Riau sendiri. Sebab, bila banjir tak bisa ditangani atau terus terjadi dari waktu ke waktu, maka cost yang harus dikeluarkan untuk mengatasi dampak banjir itu sendiri akan lebih mahal lagi.

Untuk membuat Pekanbaru bebas banjir tentunya diperlukan pengkajian yang lebih mendalam dan komprehensif, bukan sekedar mengucurkan dana untuk memperbesar drainase yang sudah ada atau membuat drainase-drainase baru tanpa jelas ke mana airnya akan mengalir. Sebab, masalah banjir tidak hanya sebatas selokan yang tersumbat atau drainase yang kecil, tetapi juga terkait penataan kota.

Tidak bisa dipungkiri bahwa lemahnya pengawasan atau pemberian izin kepada para pengembang yang terlalu mudah untuk pembangunan komplek-komplek perumahan tanpa memperhatikan kawasan hijau, mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air. Sehingga begitu hujan datang, tak ada lagi tempat bagi air untuk mengalir, kecuali menggenang dan terus tergenang hingga akhirnya menjadi banjir.

Persoalan ini akan terus terjadi sepanjang tidak ada komitmen dan keseriusan yang jelas dari pemerintah dan instansi terkait. Sebab musim kemarau dan musim hujan akan terus terjadi sebagai sebuah siklus alam. Tinggal lagi, apakah kita akan terus berbanjir-ria bila musim hujan datang atau 'makan' kabut asap di sisi lain ketika musim kemarau datang.

1 komentar:

termasuk di jalan lingkar pekanbaru panam

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More